jump to navigation

Gaya Hidup Mewah 11 Januari 2007

Posted by NolBuku in Pengetahuan.
trackback
Judul
Living It Up
Penulis
James B. Twitchell
Penerbit
Columbia University Press
ISBN
0231124961
Rilis
Februari 2002
Format
PDF
Ukuran
8.9 MB (309 halaman)

beli buku ini di
Amazon.com

Jika ‘perselingkuhan’ antara Amerika dengan kemerosotan ekonomi dan serangan teroris kita abaikan, maka hubungan paling mesra pastinya adalah antara Amerika dengan ‘kemewahan’ –dan hubungan ini semakin ‘hot’. Selama beberapa tahun terakhir, pembelian barang mewah di Amerika Serikat meningkat pesat empat kali lipat dibandingkan total pembelanjaan semua barang. Hal ini oleh para pemimpin politik dianggap sebagai bagian penting dari ekonomi Amerika secara keseluruhan, bahkan dianggap sebagai bentuk patriotisme.

Sejurus dengan itu, tingkat kepercayaan diri konsumen dan pembelanjaannya nampaknya tidak terpengaruh oleh resesi ekonomi. Konsumsi barang-barang dan jasa yang sebenarnya tidak perlu tersebut berlangsung di semua lapisan masyarakat, kecuali di kelas paling bawah. Kini J.C. Penney menawarkan produk perawatan spa dan Kmart bahkan menjual sprei dari Kashmir. Banyak sekali produk yang mengklaim diri sebagai barang ‘mewah’ sehingga ‘kategori mewah’ sendiri menjadi rancu. Misalnya saja, sebutan “pashmina” harus diada-adakan hanya supaya ada suatu benda yang lebih mewah dari kashmir.

Kita menyaksikan kemewahan dimana-mana: di etalase toko, media-media iklan, bahkan ada di imaginasi kita sendiri. Tapi apakah kemewahan itu sendiri? Bagaimana ia diproduksi di pabrik dan di benak para konsumen? Siapa yang peduli dan siapa-siapa yang membelinya? Dan apakah kita sadar bahwa barang-barang mewah tersebut semakin menguras pendapatan dan aspirasi kita?

Dengan menyusuri mal-mal di Amerika dan hingar-bingar Las Vegas, James B. Twitchell sampai pada suatu kesimpulan yang menarik. Demokratisasi kemewahan, begitu ia menyebutnya, merupakan fenomena marketing yang paling penting pada abad ini. Buku ini menunjukkan bahwa konsumsi kemewahan menjadi suatu bentuk kekuatan yang menyatukan Amerika dan Dunia, bahkan mengalahkan kekuatan perang, pergerakan atau iedologi.

[unduh]

Komentar»

1. Kang Adhi - 11 Januari 2007

apakah dalam buku itu disebut bahwa tingginya tingkat konsumsi barang mewah itu terutama karena yang belanja adalah generasi baby boomers (yang lahir 1946-1964) dan sekarang sedang berjaya? Para marketer mempelajari psikologi baby boomers ini dan lalu melakukan strategi markteting yang tepat.

NolBuku
Begitulah. Ini salah satu cuplikannya

The world that we live in, as John Seabrook recently argued in Nobrow: The Marketing of Culture and the Culture of Marketing, and as David Brooks explored in Bobos in Paradise: The New Upper Class and How They Got There, no longer easily fits into intellectual classes. It now fits into consumption communities. So, for instance, we don’t talk about high class, upper middle class, and middle class. Instead we talk about boomers, yuppies, Generation X, echo-boomers, nobrows, bobos (short for bourgeois bohemians), and the rest, who show what they are buying for themselves, not what they do for a living. And that’s why each of these groups has its own luxury markers—positional goods, in marketing jargon—to be bought, not made.

Namun jangan salah, ciri mereka (yuppies, boomers) adalah tidak mempunyai spokeperson. Tidak ada (artis,model,idol) yang dapat menjadi personifikasi mereka. It’s their unique.

2. dewi noviana - 5 Desember 2008

Jangankan di Amerika, di ibukta Indonesia yaitu Jakarta saja, sudah byk sekali manusia2 yg sgt konsumtif akan barang mewah.

3. bintang - 10 Maret 2009

jangankan orang miskin yg pengen hidup mewah, orang paling kaya aja masih pengen kaya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: