Kisah-kisah Kebebasan Berpendapat dan Konsekuensinya 29 Maret 2007
Posted by NolBuku in Sejarah.trackback
Seseorang yang bungkam selalu telibat dalam kebisuan dan kebodohan. Kebisuan karena menolak untuk berbicara, kebodohan karena menolak untuk mendengar
![]() |
Judul Outspoken: Free Speech Stories Penulis Nan Levinson Penerbit University of California Press ISBN 0520223705 Rilis Oktober 2003 Format Ukuran 3.7 MB (372 halaman) |
Kebebasan berbicara dan berpendapat nampaknya menjadi korban pertama dari perang melawan terorisme, jika dilihat dari pemerintah AS yang menganggarkan dana besar untuk memperketat sistem komunikasi dan keamanannya, menuduh mereka yang mengkritik kebijakan tersebut sebagai bertindak tidak patriotik, dan menyamakan mereka yang memiliki opini berbeda sebagai orang yang membantu “musuh Amerika”. Buku ini ingin mengingatkan bahwa dengan mengorbankan kebebasan berbicara, sesungguhnya AS telah mengorbankan nurani dan jiwa negaranya sendiri.
Nan Levinson menuliskan kisah 20 orang yang menolak kebebasan mereka untuk berbicara, berpikir, berkreasi atau beroposisi direnggut begitu saja. Diantara mereka terdapat diplomat yang membeberkan informasi rahasia mengenai kesalahan besar pemerintah AS di Guatemala, seorang jurnalis asal Puerto Rico yang mengambil risiko dipenjara karena menjaga kerahasiaan narasumbernya, seorang guru yang mendiskusikan masalah gay dan lesbian di dalam kelas, seorang petugas pemadam kebakaran yang menuntut haknya untuk bebas membaca majalah Playboy (catet!) di tempat kerja, dan seorang mantan bintang film porno yang membela hasil karyanya sebagai bentuk seni, bukannya pornografi. Terjebak dalam konflik yang memanas, kompleks dan membingungkan, bahkan kadang menggelikan, kasus-kasus mereka menjadi contoh yang menunjukkan kepada pembaca tentang perspektif dari isu-isu seputar perdebatan mengenai kebebasan berbicara.
Menggunakan gaya ankedot yang menarik, Levinson seolah ingin menunjukkan pada para pembaca akan harga dari sebuah demokrasi.










Itu termasuk kebebasan bicara e.. nulis di blog yah?
NolBuku
Ngomong2 soal itu, pernah ada kan Pak, blogger yang diciduk polis gara2 montase gambar presiden, dan kemudian bersitegang dengan Mas Roy? Mungkin itu salah satu contohnya
disini demokrasi nampaknya sudah menjadi democrazy ya
Demokrasi + Kapitalisme = Hutan Rimba, Survival of the fittest…
Hua…
meski merdeka, sesungguhnya kita ini masih terbelenggu kebebasan bersuara,
Kita kan merdekanya dulu, taun ‘45. Sekarang? i doubt it…. hehehe
kemerdekaan berpendapat dan berbcara?
kedengaran sudah biasa tuh!
tapi kalo bicaranya ngaco ya percuma aja toh! gaka ada gunanya.
Sebelum baca, mau koment dulu ahh…
“Omm numpang donlotttt” :P~